Koleksi buku dan Informasi events yang menarik hati gue. These are my wishlist books, with some commentary and opinion on it.
Monday, April 30, 2007
Graphic Novelist I-II-III
The System of Comics
Komik, atau sekarang lebih dikenali dalam bentuk dan isinya yang lebih dewasa dengan sebutan 'graphic novel' arti sederhananya adalah cerita novel (dapat sesuai untuk remaja atau dewasa) yang dituturkan dalam bentuk grafis atau gambar ilustrasi.
Sistem Komik ini adalah karya Thierry Groensteen, kalau komik tebal Craig Thompson 'Blanket' menandakan komik mulai diakui sebagai budaya visual yang berpengaruh, demikian kata John Naisbitt di salah satu bagian buku terbarunya 'MindSet!', maka kajian akademik yang bertumpu pada semiotik seni komik ini boleh dikatakan sebagai petanda bahwa komik aka 'graphic novel' ini sudah ditanggapi serius sebagai sebuah disiplin ilmu yang dinilai penting.
Tuesday, April 10, 2007
Good: Ethics & Graphic Design
Is it right to use good design for bad purposes?
In a world where awareness of ethics is increasing—but actual ethics themselves may be decreasing—where does graphic design fit in? What is the responsibility of the graphic designer? Is it right to use good design to further evil in the world, merely for the sake of being a good designer? Without dictating a moral stance, Good: Ethics and Graphic Design explores the idea of “being good” and uses what-if scenarios to explore the ramifications of different business decisions. Author Lucienne Roberts draws readers into a debate about professional “goodness” versus personal “goodness” and the relationship between ethics and design practice.
- Design theory as philosophy
- Designers, typographers, photographers, and illustrators define "being good"
- Fascinating for students and designers in business
Lucienne Roberts is the founder of the design studio sans+baum, which focuses on projects outside the commercial mainstream. A contributor to Eye and Grafik magazines, she lives in London, England.
excerpt from: http://www.watsonguptill.com/detail.html?session=d39e5952c16a2efc5e6f2281a1be0077&cat=9&id=2-940373-14-0Looking Closer 5
There would be no serious design without serious design criticism, once Massimo Vignelli challenges us, and until now it remains unfulfilled. Looking Closer has been published for four volumes, and this latest one a compilation of design criticism from 2001-2005 is bringing the graphic design issues into the next level of seriousness of criticism.
There are six section which give annotation to graphic design as six topics. Graphic design as a system, as culture, as fashion, as politics, as passion, and as idea.
Looking closer was a room for intellectual battle of graphic design issues that brought divergent thinking into one purpose: serious graphic design reflection on society and culture where they belongs.
Sunday, March 25, 2007
Damien Hirst: Superstition
Beverly Hills, Amerika.
====
Gagosian Gallery is pleased to announce an exhibition of new paintings by Damien Hirst. Opening concurrently at Gagosian Gallery in Beverly Hills and Davies Street, London, Damien Hirst: Superstition is the artist's first exhibition in Los Angeles in over a decade. In these works, Hirst expands on the iconic motif of the butterfly as a symbol of the beauty and inherent fragility of life, reaching new heights of complexity, refined detail and radiance.
Throughout his work over the last twenty-five years, Hirst has taken a direct and challenging approach to ideas about existence. His work provokes a critical dialogue by calling into question our awareness and convictions about the boundaries that separate desire and fear, life and death, reason and faith, love and hate. In his art, Hirst uses the tools and iconography of science and religion, creating sculptures and paintings whose beauty and intensity offer the viewer insight into art that transcends our familiar understanding of those domains.
In this exhibition, Hirst creates paintings whose classical shapes and compositions take their inspiration from stained glass church windows. From the soaring gothic arch in Aubade - Crown of Glory to the intricate form of the rose window in Friday Night in the Royal Station Hotel - Conception, the works all portray an ornate, fractal geometry and perfect, mathematical symmetry that is awe-inspiring.
Each painting in Damien Hirst: Superstition has two titles, the first taken from the poems in Philip Larkin's collection High Windows. Larkin was an English poet whose fatalistic, colloquial writings speak to a seemingly shared extinguished faith. The second title makes direct reference to religious iconography. A fully illustrated catalogue with essays by noted Larkin scholars John Banville and Richard Bradford will accompany the exhibition.
diambil dari http://www.gagosian.com/exhibitions/beverly-hills-2007-02-damien-hirst/images/
Saturday, March 17, 2007
Seorang kolumnis dan jurnalis sains populer melakukan perjalanannya mengunjungi beberapa kolega sainstis yang diharapkan dapat memberikan jawaban atas,"Apakah sains masih diperlukan untuk memecahkan masalah-masalah di dunia dan akan menuju kemanakah kemajuan (kalau ada) sains di masa depan?"
Di dalamnya terdapat berbagai argumen dan diskusi dari para tokoh sains yang memberikan gambaran bahwa, setelah teori gravitasi Newton (ukuran menengah, teori utk di bumi), teori relativitas Eisntein (ukuran besar, teori utk planet-planet), dan teori quantum (ukuran mikro, teori utk sel-sel, partikel dan molekuler). Keinginan para saintis utk menemukan sebuah teori besar yg secara umumnya dapat menyatukan ketiga-tiga teori tersebut, dan masih belum menemui titik cerah sehingga fisika kini mengarah kepada pendekatan penjelasan filosofis (abstraksi dengan berbagai rumus/fromula matematis) daripada pembuktian ilmiah melalui laboratorium.
Brian Greene yang memulakan penjelasan populernya tentang ruang (space), waktu dan realitas tekstur semesta di dalam The Fabric of the Cosmos, kembali menuliskan secara populer tentang sebuah pencarian akan Theory of Universe atau Theory of Everthing atau Grand Theory. Pendekatan fisika dan matematika tentu akan menarik bagi para kosmolog dan juga astronomer. Pembahasan lebih lanjut tentang SuperString Theory akan lebih mudah dicerna apabila pembaca terlebih dahulu memahami konsep berpikir falsafi fisika yang berawal dari fisika Eistein tentang ruang dan juga lubang hitamnya Hawking.
Bagi peminat dengan sedikit latar belakang pengetahuan tentang sains matematika atau fisika atau kimia dan sejenisnya akan lebih mudah untuk mengikuti tulisan fundamental ini. Penulisnya mencoba menerangkan kondisi struktur matematis dari alam semesta. Sebuah padanan dari The Elegant Universe dari penulis fisika popular Brian Greene, tetapi dalam bentuk yang lebih ilmiah fundamental. Betullah kiranya bahwa dunia sains semakin mendekati sifat falsafi-nya sebagaimana diungkapkan oleh John Horgan, kolumnis Scientific American, dalam buku hasil wawancaranya dengan banyak pakar sains - The End of Scinece.
Global Culture/Individual Identity
Global Culture/Individual Identity menawarkan sebuah diskusi tentang bagaimana kondisi terkini dari tiga budaya besar di dunia. Yaitu Jepang, Cina dan Amerika. Hasil diskusi mendalam dari penulis dengan berbagai kalangan budayawan dan seniman tradisional dan kontemporer. Di dalamnya, melalui pendekatan yg bersifat antropologis, penulis mengajak kita bergelut dengan persoalan seperti pelestarian budaya dan pencarian kembali jati diri bangsa yang di jaman sekarang ini sudah dikelilingi oleh dunia 'cultural supermarket' atau kepembudayaan supermarket.
Thursday, March 01, 2007
The Story of Graphic Design inFrance
Desain grafis Perancis mempunyai ciri khas tersendiri, meskipun berbagai gaya desain melanda dunia grafis, mereka mempunya karakteristik tersendiri yang sudah terbangun sejak lama sehingga menjadi tradisi. Kesederhanaan dalam permainan simbol dan metafora menjadi penentu karakteristik desain Perancis yang terkenal elegan dan praktis. Pendekatan yang unik dan terobosan baru tanpa menghilangkan jejak tradisi lamanya adalah sebuah kelebihan desain grafis Perancis.
Swiss Graphic Design
Richard Hollis adalah penulis buku-buku sejarah desain grafis yang telaten. Buku tentang asal mula dan perkembangan desain grafis Swiss yang terutama dikenal menciptakan standard grafis manual untuk komunikasi visual perusahaan atau korporasi dunia.
Bersama dengan negara-negara eropa lainnya, desain grafis Swiss termasuk yang setia pada tradisinya tanpa terikut-ikut trend. Kalau kita melihat penerapan 'branding' pada tingkat nasional dan internasional pada setiap produk maupun jasa, maka kita tidak boleh tidak harus mempelajari sejarahnya dari Swiss.
Saturday, January 27, 2007
Visual Communication : from Theory to Practice
Penerbit AVA Publishing telah memulai debut sebuah penerbitan yang berorientasi pendidikan, dimana buku-buku mereka dikarang oleh para praktisi yang mempunyai latar belakang akademik yang cukup tinggi. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengkombinasikan antara pekerjaan dengan penerapan teori untuk membentuk mentalitas baru dalam mengembangkan kreatifitas di dunia komunikasi visual. Bukan sekedar desain yang cantik, atau keanehan kreatif belaka tetapi implementasi pemikiran kritis ke dalam proses desain. Karya-karya praktisi yang dimuat dalam buku ini bukan sekedar berdasarkan besarnya usaha yang dimiliki klien atau pekerjaan yang bermodal besar. Dengan demikian mudah-mudahan buku ini membuat desainer komunikasi visual menjadi semakin bijak.
Sunday, January 14, 2007
Handbook of Visual Communication
Komunikasi visual adalah ranah studi yang kompleks dan dinamis sifatnya, para editor buku ini mengibaratkan ranah komunikasi visual sebagai sebuah akar rizome seperti akar serabut umbi yang menyebar ke sekelilingnya. 'Sacttered' dan 'Fragmented', terpecah-pecah dan terpenggal-penggal. Demikianlah sifatnya.
Wednesday, December 27, 2006
Massive Territory Conference
From http://massiveterritory.com/:
Acara utama yaitu Design Conference akan mengangkat isu-isu seputar dunia desain grafis yang pada 10 tahun terakhir hingga sekarang telah melawan arus utama desain ternyata justru mendapatkan tempat yang layak baik pada sisi experimental bahkan industri. Beberapa desainer yang diundang sebagai pembicara merupakan sedikit dari sekian banyak designer terkemuka di dunia yang berani, mampu dan telah membuktikan isu tersebut. Mereka telah bekerja dalam dunia desain dengan berbagai media dari 2 dimensi, 3 dimensi maupun media baru elektronic (New Media) berbasis screen berbentuk animasi ataupun motion graphic lainnya.
Monday, December 25, 2006
Graphic Design for Basic
Sunday, December 24, 2006
Design Studies
Buku ini sebenarnya sederhana saja, tetapi akan menjadi rumit karena sulit untuk menerapkannya dalam dunia praktis. Bukan berarti buku ini teoritis belaka, tetapi karena kondisi perekonomian dan mental pekerja desain grafis kita yang masih carut marut.
Betapa proses desain itu menjadi sesuatu yang penting. Desain bukan sekedar proses brainstorming soal ide-ide visual yang unik.
Desain merupakan satu disiplin yang demokratis dan interdisiplin, karenanya ia mempunyai tanggungjawab khas dalam masyarakat. Memang tidak ada yang terluka apalagi mati karena desain visual yang buruk, kecuali mungkin sakit mata dan sakit hati buat orang-orang tertentu.
Untuk menghasilkan desain yang bertanggungjawab, seorang desainer harus berpengetahuan. Profesi desain sendiri memadukan seni bisnis dan seni terapan, terlalu banyak bisnis mengorbankan desain, dan terlalu banyak seni mengorbankan segi bisnis.
Masalahnya bukan pada menciptakan desain yang menjual, desainer tidak menjual desain, desainer menawarkan jasa untuk menolong pebisnis menjual produk-produk mereka. Seringkali desainer mengeluh soal tenggat waktu dan kehabisan ide atau malah menunggu ide-ide cemerlang di saat-saat terdesak. Dalam bisnis segala sesuatu harus direncanakan, segala sesuatu harus dikomunikasikan, segala sesautu memerlukan lobby-ing. Desain harus terencana, desain harus dapat mengkomunikasikan sesuatu, desain harus persuasif meyakinkan audiens.
Tanpa riset, tanpa mempunyai data-data, tanpa komunikasi, desain hanya menjadi sebuah seni murni yang sulit diterapkan ke dalam masyarakat, apalagi untuk keperluan produksi massal, atau untuk kepentingan massa.
Akibatnya lebih banyak masalah desain adalah masalah desainer pribadi, bukan masalah produk atau masalah di tengah masyarakat. Desainer memecahkan masalah dirinya sendiri bukan memecahkan masalah produk atau masyarakat.
Pengetahuan yang terbatas, misalnya desainer hanya tahu desain, tetapi tidak mengerti disiplin lain, maka jatuhlah ia kepada keterbatasan-keterbatasan lainnya. Tidak mengerti bahasa visual, tidak mengerti menemukan masalah, tidak mengerti bagaimana mencari ide, tidak mengerti untuk apa membuat desain. Yang penting klien suka, dan ide terjual.
Hal ini yang membuat desain grafis semakin biasa saja, tidak ada yang istimewa. Desain hanya dipelajari secara formalis, tidak ada pendalaman metode mencari, mengembangkan, dan menginovasi desain.
Buku ini disusun dari berbagai pandangan mulai dari orang-orang edukasi hingga para praktisi.
Desain harus melalui proses, dan proses ini merupakan jalan bagi pebisnis untuk memajukan usahanya. Desain grafis bukan lagi soal bagaimana menjual 'taste' desainernya kepada klien, atau sebaliknya, bukan pula soal bagaimana memvisualkan 'keinginan' klien.
Desain adalah tentang desain itu sendiri.
Friday, December 22, 2006
Knowledge and Responsibility
Dengan adanya komputer dan program-program grafis yang user friendly, kini siapa saja bisa membuat desain. Buku-buku showcase dan berbagai buku belajar program grafis dan belajar desain bertaburan. Berbagai kursus desain grafis ditawarkan oleh sekolah ketrampilan, dan bahkan banyak universitas yang membuka jurusan dan program desain grafis. Setiap orang yang pernah punya pengalaman di dunia praktis periklanan, studio grafis, percetakan atau penerbitan dan pekerja grafis lainnya menjadi layak untuk menjadi pengajar desain grafis.
Sedemikian mudahkah menjadi desainer grafis?
Rasanya, Ya, mudah saja menjadi desainer grafis. Desain grafis adalah sebuah profesi dan disiplin yang paling demokratis dan tidak mempunyai banyak resiko bagi seseorang.
Sebenarnya, secara umum, desain lebih diperlukan oleh dunia yang sudah maju, baik dari segi ekonomi maupun sosial dan kebudayaan. Seni dan desain merupakan simbol bagi kemajuan sebuah budaya, ketika kehidupan individu sudah terpenuhi maka ia akan membutuhkan aktualisasi diri, dia merasa perlu menunjukkan kualitas karakter dirinya. Bagi sebagain orang melalui mendengarkan musik yang dianggap berkelas, menggunakan baju dengan fashion yang terpilih, alat komunikasi yang tidak hanya fungsional tapi mencerminkan karakter dirinya, serta mengkoleksi benda-benda seni sebagai status.
Tanpa ekonomi dan politik yang stabil, kehidupan sosial akan berantakan dan seni dan kebudayaan tidak dapat jauh berkembang. Setiap orang mempunyai rasa seni, setiap orang selalu mendesain, seni dan desain itu menjadi sangat individu dan fungsional sifatnya.
lalu apa yang dapat membuat seseorang yang mempelajarinya atau mendapatkan pendidikan di bangku kuliah berbeda dengan orang biasa yang terampil menggunakan komputer dan program desain grafis serta mempelajari desain-desain melalui buku-buku?
Kebutuhan primer biasanya mendahului kebutuhan hidup lainnya, dan desain grafis sering diandalkan sebagai profesi untuk memperoleh pendapat yang mudah dipelajari teknik dan ketrampilannya. Sayangnya, ilmu seni dan desain ini pada akhirnya jatuh kepada penyembahan terhadap estetika dan prinsip artistik saja. Mereka yang berkesempatan duduk menikmati bangku kuliah pada akhirnya sibuk untuk membedakan dirinya dengan 'tukang desain' alias orang-orang yang belajar teknik program desain saja.
Akhirnya banyak desainer grafis yang bermental pertukangan saja, kononya mereka mempunyai kemampuan membuat konsep desain, bukan sekedar desain yang terlihat artistik saja. Karya-karya mereka kononnya mengandung konsep komunikasi dan didesain melalui proses dan riset terlebih dahulu. Kita bahkan tidak tahu pasti konsep komunikasi apa, siapa dan bagaimana yang mereka pakai. Proses desain dan metode riset seperti apa yang mereka lakukan sehingga muncul berbagai desain-desain yang grafisnya seperti asyik sendiri.
pada akhirnya, ada dua hal yang perlu kita pertanyakan kembali tentang disiplin ilmu desain grafis dan pekerjaan serta profesi desainer grafis. Dua hal yang perlu untuk terus diulang-ulang dan senantiasa dipertanyakan kembali. Tetapi kedua hal ini masih jauh panggang dari api, karena desainer masih sibuk memenuhi kehidupan dan mempertahankan nyala api di periuk nasi rumah. Kedua hal itu adalah pengetahuan (knowledge) dan tanggung jawab (responsibility).
Thursday, December 21, 2006
Design Management
Penerbit buku ini adalah Ava Academia, salah satu penerbit eropa yg berkonsentrasi menghasilkan buku2 pendidikan desain (grafis) yang sifatnya intelektual dan praktis sekaligus. Bukan hanya sekedar contoh2 atau showcase display dari berbagai perusahaan desain ditambah opini2 dan komentar atas desain, tetapi apa yang ditawarkan pada Design Management memang sebuah gambaran lengkap ttg proses mendesain dalam dunia praktis yang ideal.
Artinya untuk menghasilkan desain yang bagus dan berkualitas, bukan hanya menurutkan perasaan desainer atau keinginan klien, tetapi kombinasi keduanya ditambah dengan proses meriset - membaca - memahami - dan tanggung jawab sosial.
Monday, December 11, 2006
Buku-buku riset untuk seni rupa dan desain grafis
Buku-buku riset untuk seni rupa dan desain grafis
Seni rupa dikenali dengan subjektifitas para penggiatnya. Bagaimana proses kreatif dalam menghasilkan karya dan pemikiran seni rupa seringkali terjebak dalam kesukahatian pelakunya. Karena itu buku ini memberikan gambaran perjalanan pendidika seni rupa terutama dalam proses menghasilkan karya, baik pemikiran maupun seni plastis.
Melalui ini diterangkan secara ringkas metode-metode riset yang dikembangkan oleh senirupawan-senirupawan dari berbagai sivitas akademika.